• Home »
  • News »
  • Barra Brava: yang Harum dan yang Busuk dari Sepakbola Argentina

Barra Brava: yang Harum dan yang Busuk dari Sepakbola Argentina

Barra Brava: yang Harum dan yang Busuk dari Sepakbola Argentina

Bagaikan sayur tanpa garam jika berbicara tentang sepakbola Latin, terutama di Argentina, tanpa membicarakan Barra Brava – sebutan untuk kelompok suporter garis keras di sana.

Barra Brava, bagi sebagian sepakbola Argentina, adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan di tribun. Kendati kerap membuat onar, kesebelasan-kesebelasan Latin tidak pernah meremehkan mereka. Tanpa memunafikan diri, tim-tim Amerika Latin merasa sangat membutuhkan dukungan dari Barra Brava yang tanpa cadang itu.

Barra Brava punya reputasi harum dan mentereng di kalangan “umat” tribun sedunia. Mereka dikagumi, dipuja dan oleh beberapa kelompok bahkan dijadikan patron untuk ditiru. Tapi bersama keharuman nama dan reputasi itu, Barra Brava juga menyimpan kebusukannya tersendiri.

Masuk menjadi anggota Barra Brava merupakan sebuah tantangan dan petualangan bagi para anak muda Argentina. Bahkan seorang Raul Gamez, presiden Atletico Velez Sarsfield, salah satu klub Argentina, mengaku menjadi seorang Barra Brava sewaktu masih muda.

Sebagai presiden, ia tahu kadang anggota Barra Brava Velez Sarsfield kerap mengkritik dan mengeluarkan unek-unek terhadap kebijakan yang diambil manajemen Velez. “Saya tahu itu. Mereka teman-teman kecil saya. Saya berpesan kepada mereka meminta agar mereka tidak melakukan kekacauan,” ujarnya kepada La Izquierda Diario.

Pernyataan seorang presiden klub tersebut memberikan gambaran yang cukup mengenai pentingnya kehadiran Barra Brava, sekaligus menyiratkan sesuatu yang juga melekat kepada Barra Brava: kekacauan.

Lantas seperti apa Barra Brava sesungguhnya? Apa yang membuat mereka berbeda dengan suporter garis keras lain seperti ultras di Italia atau hooligans di Inggris?

Lebih Kompleks dan Merasa Lebih Keren Ketimbang Hooligan

Sejatinya istilah Barra Brava sudah ada sejak akhir 1950-an. Gaya mereka mendukung di tribun memang mirip dengan ultras-ultras Eropa, seperti berdiri sepanjang pertandingan, bernyanyi sambil membentangkan spanduk besar atau mengibarkan bendera bergelombang dan perilaku antusias lainnnya.

Barra Brava lebih rumit dibanding para perusuh tribun di Inggris. Kebanyakan para hooligan di Inggris adalah orang-orang kelas pekerja yang mencari perkelahian di akhir pekan sebagai sarana katarsis. Tapi di Argentina, Barra Brava lebih memiliki hubungan dengan politisi, polisi dan manajemen kesebelasan. Di sini ada sedikit irisan antara mereka dengan ultras di Italia atau Eropa Timur.

“Di Inggris anda berpikir Hooligan itu yang terkuat, tapi mereka tidak bisa dibandingkan dengan kami. Yang mereka lakukan adalah minum dan melawan. Kita minum, berjuang dan juga melakukan bisnis. Kami bukan hanya monyet-monyet yang bernyanyi untuk klub di stadion dan kemudian saling membunuh di jalanan. Mereka bisa belajar satu atau dua hal dari kami,” ujar Pepe Diaz, salah satu anggota Barra Brava Boca Juniors, sambil berjongkok di tanah dengan satu botol bir di tangannya.

Pada awalnya, dalam banyak kasus, Barra Brava didukung dan dibiayai oleh kesebelasan sepakbola dengan tiket gratis untuk menonton pertandingan, bahkan kadang sedikit uang. Tapi seiring dengan tumbuhnya industri sepakbola, mereka juga pelan-pelan menemukan celah bisnis yang bisa dimanfaatkan.

Pertama, Barra Brava mulai mengelola penjualan tiket dan menjalankannya sebagai sumber utama pendapatan tim. Mereka kemudian mengambil alih tempat parkir di sekitar stadion, termasuk jasa parkir valet. Keuntungan besar diambil dari ratusan ribu penonton yang menghadiri pertandingan sepakbola Argentina setiap minggunya. Keuntungan dari parkir selama satu hari pertandingan di Bombonera Stadion, markas Boca Juniors, saja bisa mencapai angka 300 ribu peso Argentina (sekitar 30 ribu dolar Amerika).

Atas pemasukan-pemasukan itulah pihak kesebelasan amat membutuhkan peran Barra Brava sebagai ladang uang bagi para bos di gedung-gedung tinggi Argentina. Tentu saja, ada setoran yang harus dibayarkan dari perputaran ekonomi itu, entah setoran legal berupa pajak maupuns setoran ilegal kepada patron-patron lokal yang menguasai jalanan dan dunia bawah tanah.

Tapi pemasukan Barra Brava bukan hanya dari putaran uang di luar stadion, bahkan dari pengelolaan manajerial klub sendiri. Gustavo Grabia, seorang wartawan Argentina, pernah menghabiskan bertahun-tahun menyelidiki korupsi sepakbola kepada kesebelasan Argentina. Ia mengklaim punya bukti kalau beberapa kelompok Barra Bravas kadang menerima persentase dari transfer pemain dan bahkan gaji pemain.

Bahkan Monica Nizzardo, pendiri dan presiden Salvemos, saat bekerja di departemen pers di Atalanta terkejut melihat malah Barra Brava yang mengatur kontrak pemain tanpa disaksikan direksinya di salah satu klub divisi tiga Argentina.

Itu semua bisa terjadi karena manajemen kadang sangat mengandalkan Barra Brava, bukan hanya demi mendukung pemain di hari pertandingan. Bos-bos kklub Argentina mengandalkan dukungan mereka dalam pemilihan internal. Barra Brava juga bisa diandalkan untuk meneror pelatih dan pemain yang tidak sesuai dengan keinginan direksi. Pejabat timyang tidak bisa memenuhi tuntutan Barra Brava harus siap menghadapi pemecatan atau bahaya fisik.

Pada 2012 sebuah video pernah tersebar ketika Paulo “Bebote” Alvarez, mantan pimpinan Barra Brava Independiente, mengancam presiden klub tersebut, Javier Cantero. Cantero diancam akan kehilangan banyak anggota di manjemennya karena sejak mengambil alih sebagai presiden ia mencoba memerangi Barra Brava.

“Pembohong!” seru Bebote yang menggunakan penutup wajah dan topi sambil berulang kali ketika mengejar Cantero.

“Siapa pendusta itu?” balas Cantero dengan marah. Kemudian Bebote membalas, “Orang yang hidup dari klub dan mencuri dari klub,” timpalnya. Kemudian terungkap jika Cantero melakukan korupsi sebesar 42 ribu dollar Amerika pada September dan 32 ribu dolar pada Oktober 2012.

Menjatuhkan pejabat korup atau diktator di sebuah kesebelasan adalah salah satu atribut paling membanggakan bagi para Barra Brava. Itu memperlihatkan potensi mereka sebagai salah satu kelompok penekan (pressure group). Tapi, sekali lagi, itu hanya salah satu potensi, sebab mereka punya potensi lain yang lebih negatif.

Perkelahian sebagai Cara Memperlihatkan Eksistensi

Tapi sejak 1980-an dan 1990-an Barra Brava semakin berkonotasi negatif seiring dengan catatan-catatan kekerasan di dalam maupun luar stadion sepakbola.

Pada 9 November 2003, kengerian terjadi dalam Derby Superclassico antara River Plate dengan Boca Juniors. Biru dan Emas (Azul y Oro, bahasa Spanyol), julukan Boca, berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0 di Stadion Monumental, kandang River. Keesokan harinya ditemukan dua suporter Boca tewas dan diduga pelakunya adalah kelompok Barra Brava River yang meninggalkan pesan pada sebuah kaca “Boca 2, River Plate 2″.

Bahkan hanya karena memakai jersey River saja, seorang ibu – ya, seorang ibu, bukan pemuda petanteng petenteng– harus terkapar dipukul suporter Boca Juniors ketika pulang menyaksikan kesebelasannya tersebut bertanding pada awal Desember tahun lalu. Kekerasan bahkan kematian suporter kesebelasan Argentina terasa begitu mudah dan cepat. Wajar saja, karena pertandingan mereka selalu dibekali dari senjata tajam bahkan sepucuk pistol tangan (hand gun).

Tindak aniaya tidak mengenal lawan jenis tersebut memperlihatkan fanatisme yang mematikan di dunia sepakbola – dan itu biasanya hanya bisa dilakukan secara sistematis oleh kelompok suporter garis keras yang terorganisir, dalam kasus Argentina ya para Barra Brava.

Perkelahian adalah bagian yang wajib diambil risikonya oleh setiap Barra Brava. Sebagai imbalan dari setiap perkelahian yang dengan gagah berani dijalani, seorang anggota akan mendapatkan tiket gratis pertandingan sepakbola, mendapatkan ganja serta minuman keras yang akan dikirim langsung ke rumahnya.

Perkelahian, atau terlibat dalam tawuran dengan kelompok lawan, tak ubahnya sebuah proses inisiasi yang menahbiskan keanggotaan seseorang di sebuah kelompok Barra Brava. Terluka dalam perkelahian, atau bahkan ditangkap polisi karena terlibat kekerasan, tak ubahnya sebuah “ijazah” yang membuat seseorang bisa dengan bangga mengaku dirinya sebagai anggota Barra Brava.

Itulah yang membuat kebanggaan menjadi anggota Barra Brava sebagai kompensasi dari kekalahan dalam kehidupan ekonomi dalam keseharian.

“Sebagai orang miskin aku tidak dipandang. Tapi pada akhir pekan (ketika match day) itu menjadi berbeda. Orang-orang melihat kami, orang-orang melihat saya,” ujar Pepe Diaz, anggota Barra Brava Boca Juniors.

Tapi mereka memiliki etika yang disebut dengan “10 Perintah”. Etika tidak tertulis itulah yang akan memastikan sebuah pertarungan atau perkelahian akan berlangsung secara fair. Sebab, etika itu memang dibuat secara bertahap melalui konsensus yang dibangun oleh para pemimpin Barra Brava sendiri, yang sebagian cuma bertemu ketika berkelahi atau dalam penjara. Beberapa etika tidak tertulis itu misalnya tentang menghentikan pencurian bendera Barra Brava lawan dan menahan diri untuk berkelahi dengan kelompok lain demi menghadapi polisi yang terlampau agresif dalam peperangan mereka.

Praktik kekerasan macam itulah yang akhirnya membuat Barra Brava dianggap oleh beberapa kalangan sebagai penyakit sosial di Amerika Latin, terutama Argentina. Barra Brava menjelma menjadi gengster di Argentina yang mengendalikan sepakbola dengan senjata kekerasan ala perkampungan slum di Buenos Aires.

Uang merupakan alasan lain pertikaian antar-Barra Brava. Eduardo Perez, salah seorang mantan anggota Barra Brava San Pedro, mengatakan jika komplotan suporter tersebut sudah tidak peduli lagi dengan permainan di lapangan. Yang lebih penting adalah menggunakan stadion di hari pertandingan untuk mengumpulkan dan mengonsolidasi dukungan untuk menjadi bagian kelompok yang bisa digunakan untuk mengumpulkan uang.

Mengumpulkan dan merekrut anggota baru bukan lagi semata untuk menambah pasukan tempur di stadion, tapi juga sebagai “karyawan” untuk urusan bisnis di luar stadion dan di luar hari pertandingan. Semakin banyak anggota, semakin banyak juga kaki tangan yang bisa dikerahkan untuk berbagai urusan, dari mulai tukang parkir hingga kurir narkoba jika diperlukan.

Kaitan Barra Brava dengan Kartel Narkotika

Berbincang dengan mulut yang menjepit rokok, seorang anggota Barra Brava Boca, Jorge Mendez, menceritakan perjuangan ketika kesebelasannya pujaannya, Boca Juniors, meraih sebuah trofi liga. Disebutkannya jika jalanan Buenos Aires padat karena itu merupakan dampak dari perjuangan.

“Setelah itu mereka tahu betapa aku mencintai Boca. Saya adalah salah satu dari mereka,” ujarnya dengan jersey Boca diselendangkan pada pundaknya. Saat itu juga tubuhnya sedang dirasuki aliran bir dan tentu saja, zat-zat kimia narkotika.

Soal narkotika memang sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari Barra Brava. Selain minuman keras, mereka juga lekat dengan penggunaan zat adiktif itu untuk menggelorakan adrenaline yang dibutuhkan tiap kali memerangi polisi dengan batu, rantai, atau bangku-bangku stadion.

Selain menjual merchandise dan tiket, Barra Bravas juga mendapatkan pemasukan dengan menjual minuman keras dan obat-obatan ilegal. Pernah dalam satu kasus sebanyak 170 kilo kokain, ganja, ekstasi, dan bahan kimia berhasil disita dari mereka. Lebih dari 150 tiket sepakbola ditemukan bersama obat-obatan terlarang yang diberikan sebagai paket bonus pembelian tiket.

“Ini adalah investigasi yang dimulai dengan melacak kejahatan ekonomi dan berakhir dengan penemuan besar labotarium obat ilegal. Di mana ada hubungan antara anggota Barra Brava, senjata, obat-obatan dan kejahatan lainnya,” kata Sergio Berni, Menteri Keamanan Argentina.

Hubungan Barra Brava dengan kartel narkoba memang intim sehingga wajar jika banyak yang berpikir bahwa anggota Barra Brava memang bekerja kepada geng perdagangan narkoba. Tapi nyatanya relasi keduanya tidak sesederhana itu. Tidak semua punya ikatan bisnis dengan kartel narkoba. Kadang hanya beberapa tokoh pentingnya saja, atau satu dua anggota saja.

Tapi bahwa anggota Barra Brava biasa menggunakan narkoba dan minuman keras, itu sudah menjadi pemandangan jamak. Latar belakang sosial mereka yang banyak berasal dari wilayah slum membuat mereka terbiasa menyaksikan konsumsi narkoba.

Obat terlarang telah menjadi endemik di perkampungan miskin Argentina. Bahkan mereka pun tidak sungkan menjual narkoba kepada para wisatawan yang ingin berkunjung untuk sekedar menikmati atmosfir pertandingan Boca Juniors di Stadion Bombonera.

Sulitnya Menghentikan Warisan Barra Brava

Pada dasarnya Barra Brava di dalam stadion jarang tersentuh dan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Hal tersebut mustahil terjadi tanpa keterlibatan dan kolusi antara pihak kesebelasan, pemain, aparat dan politisi. Bukan hal aneh jika kekerasan yang dilakukan Barra Brava tidak berlanjut ke ranah hukum.

Simak cerita yang dialami oleh Liliana Suarez de Garcia. Barra Brava merupakan bagian hidup yang paling tidak bisa diterima Liliana. Anaknya, Daniel, tewas dalam pertandingan Uruguay dengan Argentina pada Copa America 1995. Selama bertahun-tahun setelah kematian anaknya ia berjuang agar pembunuh anaknya diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Harapan yang sama juga dialami keluarga lain yang kehilangan anak-anaknya akibat keganasan Barra Brava.

“Setiap hari aku bangun menangis untuk anak saya. Kematiannya begitu tragis, tapi tidak ada yang membantu saya, belum ada keadilan karena orang-orang yang membunuhnya dilindungi polisi dan negara. Ini harus dihentikan,” ungkap Liliana.Bentrokan antara Barra Brava dianggap sebagai hal biasa dan kematian pun dianggap sebagai sesuatu yang jamak. Menurut organisasi non-pemerintah Argentina, Salvemos el Futbol, rata-rata lima orang tewas setiap tahunnya dalam kekerasan sepakbola.

Pemerintahan Argentina pada 2002 sempat menyatakan jika Barra Brava merupakan kejahatan, tapi sampai sekarang kekerasan yang mereka lakukan rasanya sulit diusut. Regenerasi mereka juga berkembang pesat. Selalu timbul bibit-bibit baru dari kalangan muda Barra Brava.

“Apakah anda berpikir bahwa jika saya dipenjara kekerasan akan berakhir? Apakah anda percaya jika kami semua dijebloskan ke penjara dan bahkan membunuh kami sekali pun, maka kakerasan akan berakhir? Tidak, itu tidak akan pernah berakhir. Kamu tahu kenapa? Karena ini adalah sekolah. Ini adalah warisan, warisan, warisan,” tegas Di Zeo, mantan pemimpin Barra Brava Boca Juniors selama 12 tahun.

Larangan ke stadion pun sempat diberlakukan kepada Barra Brava tapi mereka mampu beradaptasi dan menjebol tribun melalui akses pintu pers dengan akreditasi palsu. Menangani kasus-kasus kekerasan Barra Brava pun semakin sulit karena budaya korupsi yang endemik di Argentina, tak terkecuali di kalangan para penegak hukumnya.

Lagipula, korupsi dalam sepakbola di Argentina juga sudah berlangsung lama dan sudah sampai tingkat akut. Belum lagi koneksi politik Barra Brava yang semakin memperkuat posisi mereka. Pepe Dias, salah satu anggota Barra Brava, mengakui jika polisi sampai politisi disuap untuk memenangkan peradilan. Kedekatan hubungan politik dan kekuatan uang, ditambah penegakan hukum yang korup, menjadikan mereka mempunyai imunitas.

Inggris, Jerman serta negara lainnya juga memiliki budaya hooliganisme sepakbola yang mengakar, tapi penegakan hukum di sana sangat kuat. Jangankan melakukan pembunuhan, melempar koin ke lapangan saja bisa dihukum.

Inilah yang tidak ada di Argentina, dan kebanyakan negara Amerika Latin lainnya. Ujung-ujungnya, perkembangan Barra Brava pun sulit untuk dikendalikan. Sistem politik dan tata sepakbola di sana memungkinkan organisasi brutal macam itu bisa berkembang pesat.

 

Please like & share: