Ekspektasi besar menanti Louis van Gaal

 

“Suffering has been stronger than all other teaching, and has taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken, but – I hope – into a better shape.” ― Charles Dickens, Great Expectations.

Kutipan di atas rasanya sangat pas untuk membandingkan Manchester United sampai kepada tiga musim yang lalu. “Great expectations” (yang berarti harapan yang besar), dua kata itu yang ada di bayang-bayang para suporter United sedunia kepada Van Gaal.

Setelah mengalami kejayaan selama lebih dari dua dekade bersama Ferguson, seolah United dibuat terjelembab hanya dalam hitungan bulan. Pekan demi pekan, ada kekecewaan, penderitaan, dan kesedihan yang menghinggapi mereka semua.
Di musim ke dua manajer asal Belanda tersebut, pada kenyataannya United telah mencoba untuk bertransformasi kembali. Untuk memahami rekam jejaknya, kita bisa memperhatikan perbandingannya di bawah ini.


[Perbandingan Manchester United musim 2012/13 (Sir Alex Ferguson), 2013/14 (David Moyes dan Ryan Giggs), dan 2014/15 (Louis van Gaal)]

Pada masa terakhir Sir Alex memimpin United, mereka adalah kesebelasan yang beringas. Itulah kenapa mereka bisa menjadi juara Liga Primer dengan meyakinkan.

Jika dibandingkan dengan era Moyes-Giggs dan Van Gaal, United-nya Ferguson lebih banyak mencetak gol (86), melakukan tembakan ke gawang (shot on goal), dan juga otomatis menciptakan peluang (chances created) lebih banyak. United bermain sangat efektif.

Namun, pada masa Moyes-Giggs, statistik di atas menunjukkan bahwa United sangat kesulitan. Hampir seluruh aspek statistik yang kami bahas di atas, United musim 2013/14 hampir pasti lebih kedodoran daripada musim sebelumnya. Sedangkan United musim lalu di bawah LVG, mereka mengalami sedikit peningkatan terutama dari aspek permainan (jumlah operan, persentasi operan, dan dribel sukses).

Satu hal yang membedakan United Moyes-Giggs dengan Van Gaal adalah pada pertahanan mereka. Hal positifnya, United di masa Van Gaal bisa bertahan lebih baik, tapi dengan catatan beberapa kali mereka menyusahkan kiper David de Gea (29 kali kesalahan defensif) padahal angka kebobolan mereka paling sedikit (37).

Hal ini disebabkan oleh United yang ditinggalkan oleh tiga pemain belakang andalan mereka, yaitu kapten Nemanja Vidic, wakil kapten Patrice Evra, dan Rio Ferdinand. Perhatikan angka kesalahan defensif (defensive error) mereka di musim 2013/14 (hanya 19, paling sedikit).

Satu-satunya hal positif yang bisa kita dapatkan dari era Moyes-Giggs (terutama Moyes) berupa sapuan bola (clearance) dengan total 1.473 kali malah menunjukkan satu kelemahan utama United dalam bertahan, karena sapuan bola atau membuang bola bisa diartikan dengan “kalau bolanya sampai ke pertahanan kita, buang saja bolanya, kita tidak tahu harus kita apakan bola tersebut.”

Secara umum, dengan tiga perbandingan di atas, United memang sedang berada dalam jalur yang benar di bawah Van Gaal. Sekarang, dengan permainan yang lebih menghibur dan sesuai dengan filosofi Van Gaal (operan dan dribel sebagai elemen utama penguasaan bola), hanya tinggal bagaimana Van Gaal meningkatkan efektivitas dan daya gedor lini depan United, sehingga ia bisa meningkatkan angka pada gol, tembakan ke gawang, dan menciptakan peluang.

Sebagai tambahan juga, angka intersep (memotong aliran bola lawan) yang tertinggi di era Van Gaal membuat kita sadar bahwa pengambilan posisi dan organisasi pemain United sudah lebih baik daripada era Ferguson dan Moyes-Giggs.

Please like & share: