Kode Metoh Dalam Arena Tajen di Bali

Kode Metoh Dalam Arena Tajen di Bali – di Bali adalah sebuah Kode ataupun bahasa yang tidak awam yang biasanya hanya digunakan dan agen s128 tajen bali dimengerti oleh bebotoh di Arena Pertandingan Tajen atau Sabung Ayam Pisau di Bali cara bermain sabung tajen bali
kode-metoh-dalam-arena-tajen-di-baliKode metoh sendiri tidak lah terlepas dari kebiasaan ­kebiasaan yang timbul dan dilakukan oleh para bebotoh. Konon, keberadaan bebotoh amat menentukan ramai ­tidaknya tajen. Bahkan tajen dan bebotoh ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan.

Betapa tidak, karena arena tajen sering diramaikan teriakan­teriakan istilah yang tak lazim, antara lain gasal, cok, pada, telude, apit, dan kedapang. Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. Cok, sistem taruhan tiga lawan empat, pada (sama) adalah taruhan satu lawan satu. Telude, dua banding tiga, apit menggunakan satu banding dua, sedangkan kedapang sembilan banding sepuluh.

Biasanya sebelum pertarungan dimulai, dua pakembar, “petugas” yang melepas ayam sebelum bertarung, terlebih dahulu memperkenalkan setiap ayam dengan cara meletakkannya dalam sebuah segi empat di tengah wantilan. Saat itu, akan tampak mana ayam yang pantas diunggulkan dan mana yang tidak. Misalnya seorang pakembar
sabung-ayam-cf88
membawa ayam jambul, sedangkan yang lain membawa ayam kelau. Jika ada bebotoh yang menjagokan ayam jambul, ia berteriak menyambut. Jika hingga pakembar selesai dengan acara perkenalan itu tidak ada bebotoh yang mengunggulkan ayam kelau, otomatis ayam jambul menjadi unggulan. Selanjutnya, para bebotoh riuh menawarkan taruhan

Bebotoh yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena. Maka, yang menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Bebotoh pun dapat menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan. Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa.

Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”, seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang sebesar taruhan, sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat dari jumlah taruhan yang disepakati.
poker-ceme-capsa-taruhantop
Dalam tajen pun ada wasit, yang disebut saya. Di setiap tajen bali ada empat saya yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap. Saya kemong biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong, paling tinggi jabatannya. Ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri pertarungan.

Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan.

Dalam pertandingan atau acara tajen, semua peraturan ­peraturan dalam tajen biasa dipatuhi dan dijalankan tanpa ada kecurangan, karena tajen sangat kerat dengan adat bali, maka jika terdapat kecurangan, maka si pelaku bisa di keroyok, bahkan sanak saudaranya pun terkena imbasnya.. oleh karena itu semua berkalu dengan tertib, yang kalah harus bayar kepada yang menang dan sebaliknya.

Please like & share: