• Home »
  • News »
  • Obituari Eduardo Galeano – Sang Penafsir Keindahan Sepakbola

Obituari Eduardo Galeano – Sang Penafsir Keindahan Sepakbola

Obituari Eduardo Galeano – Sang Penafsir Keindahan Sepakbola

Eduardo Galeano wafat kemarin dalam usia ke-75 tahun. Pengarang Uruguay ini, yang menuliskan trilogi novel masyhur berjudul Memory of Fire Trilogy, dikenal sebagai penulis yang tak henti-hentinya menyerukan pentingnya menjaga ingatan – terutama ingatan tentang sejarah Amerika Latin yang berlumur kebejatan kolonialisme dan kedegilan militerisme.

Bukunya yang berjudul Open Veins of Latin America: Five Centuries of the Pillage of a Continent berisi tuturan yang indah, liris, tragis sekaligus tanpa tedeng aling-aling perihal sejarah Amerika Latin, sejak fase penjajahan Eropa hingga era kontemporer.

Ia menyebut dirinya sebagai seorang penulis yang “terobsesi dengan ingatan”. Sebab, baginya, mengingat adalah tugas mulia, dan dalam hal Amerika Latin, mengingat masa lalu Amerika Latin adalah keharusan karena benua itu kadung “dihukum oleh amnesia”.

Cita-cita kecilnya adalah menjadi seorang pemain sepakbola, sebagaimana semua anak laki-laki yang lahir di Uruguay lainnya. Tapi ia tahu diri dengan kemampuan dan bakatnya. Maka untuk merawat cita-citanya itulah ia menulis. Menulis, satu waktu ia pernah berkata, “tak ubahnya bermain bola dengan tangan sebab saya tak bisa melakukannya dengan kaki.”

Ia menulis sebuah buku berjudul Soccer in Sun and Shadow. Kadang saya berlebihan, tapi tidak ketika mengatakan bahwa itulah buku paling indah tentang sepakbola yang pernah saya baca.

Buku itu berisi renungan-renungannya tentang sepakbola. Dengan kemahiran seorang penyair, ia menafsirkan berbagai hal yang ada dalam sepakbola: dari kiper, wasit, tiang bendera di sudut lapangan, hingga suporter. Sebab ia adalah penulis yang terobsesi dengan ingatan, ia pun menuliskan fragmen-fragmen penting dan tidak penting yang diingatnya dari sepakbola. Dari gol Pele, Maradona, tentang Cruyff dan Garrincha, tentang Joao Havelange, juga perihal stadion dan kelakuan-kelakuan ganjil yang muncul di lapangan.

Semuanya ia uraikan dalam bab-bab pendek, ringkas, tanpa tedeng aling-aling, dengan kelihaian yang hanya bisa dibandingkan dengan sentuhan pertama yang selembut sutera dari seorang Zidane, tipuan mematikan dari Garrincha, atau liukan tubuh yang kejam dari Maradona, dan lengkungan tak terpermanai dari tendangan bebas Roberto Carlos.

Dengan itulah, sebagaimana ia menulis Open Veins of Latin America, Galeano sedang menjaga sepakbola sebagai sebuah ingatan yang manis perihal sepakbola sebagai permainan indah yang kini sudah terkebiri oleh para industrialis rakus dan tikus-tikus yang berkantor di Zurich (ia bilang FIFA adalah IMF-nya sepakbola).

Dengan nada yang sedih, ia menulis: “Sejarah sepakbola tak ubahnya perjalanan yang sedih dari kesenangan yang menjelma menjadi kewajiban.”

Galeano, bagi saya, kadang seperti album foto yang tak bosan-bosannya menyodorkan pemandangan tentang sepakbola yang sama-sama pernah kita mainkan di masa kecil, di setiap sore, dengan kaki-kaki yang telanjang nan ringkih dan belum mengenal dosa apa pun – sebuah surga yang kini telah hilang dan hanya bisa diendus jejaknya dalam persemayaman ingatan yang seringkali rapuh dan mudah kandas itu.

Dalam hari saya berjanji, kapan pun saya melihat anak-anak kecil bermain bola, saya akan berusaha sebisa meungkin untuk menyempatkan berhenti sejenak, sebagai bentuk penghormatan kecil terhadap kalimat-kalimat yang pernah ditulisnya, juga sebagai salam takzim untuk keindahan yang telah dirusak oleh orang-orang rakus.

Selamat jalan, maestro. Panjang umur, sepakbola!

Persembahan

Selanjutnya, saya coba menerjemahkan secara bebas, semacam saduran bebas, dari beberapa bagian buku Soccer in Sun and Shadow.

“Persembahan”

Halaman-halaman berikut didedikasikan untuk anak-anak yang pada satu waktu, tahun lalu, melintasi nasib saya di Calella de la Costa. Mereka sedang bermain sepakbola dan bernyanyi:

Kami kalah, kami menang, itulah cara kami bersenang-senang.

Pengakuan Pengarang

Seperti semua anak Uruguay lainnya, saya ingin jadi pemain sepakbola. Saya cukup baik bermain bola, sesungguhnya bahkan saya pemain hebat, tapi itu hanya terjadi pada malam hari ketika saya tidur. Sepanjang hari lainnya, kaki saya tak ubahnya kayu terburuk yang pernah menginjakkan kaki di lapangan bola kecil di negeri saya.

Sebagai penggemar saya juga menyimpan banyak keinginan. Juan Alberto Schiaffino dan Julio Cesar Abbadie bermain untuk Penarol. Sementara saya penggemar setia Nacional, rival Penarol. Dan saya melakukan semua hal yang bisa dilakukan untuk membenci mereka.

Tapi umpan-umpan yang begitu lihainya mengendalikan permainan, membuat “El Pepe” Schiaffino seolah-olah melihat segala hal-ihwal dari menara tertinggi di stadion. Sementara  “El Pardo” Abbadie, berlari dengan sepatu ber-pool tujuh, membawa bola sepanjang garis tepi, berayun dan maju mundur tanpa pernah menyentuhkan bola ke rumput atau lawan yang menjaganya.

Saya tidak bisa menolak kekaguman kepada mereka, bahkan saya kadang seperti bersorak.

Tahun-tahun telah berlalu dan akhirnya saya belajar menerima siapa diri saya: seorang  pengemis yang haus dengan keindahan sepakbola. Saya pergi mengelilingi dunia, dan jika berada di dalam stadion saya akan berdoa sembari merentangkan tangan: “(Berilah) sebuah gerakan yang cantik, demi Kasih Allah.”

Dan ketika sepakbola yang indah akhirnya terlihat di lapangan, aku mengucapkan syukur untuk keajaiban dan saya tidak akan pernah memaki kesebelasan yang bisa menciptakan keindahan macam itu.

Penjaga Gawang

Orang-orang memanggilnya penjaga pintu, kiper, goalie, penjaga atau pembersih jaring. Tapi dia sebenarnya seorang martir. Orang-orang mengatakan di mana pun ia berjalan, rumput tak akan pernah tumbuh.

Dia selalu sendirian, dikutuk menonton pertandingan dari kejauhan. Tidak pernah meninggalkan tujuan, kantornya adalah tiga batang kayu, dia menanti eksekusinya sendiri dengan cara melakukan tendangan gawang.

Dia mengenakan pakaian berwarna hitam, sebagaimana wasit. Kini wasit tak harus mengenakan pakaian seperti burung gagak dan kiper bisa mengisi kesunyiannya dengan khayalan yang warna-warni.

Dia tidak mencetak gol, dia berdiri dalam sunyi justru untuk mencegah orang lain mencetak gol. Gol adalah tujuan pesta sepakbola: penyerang memercikkan api kesenangan dan kiper tak ubahnya kain basah yang harus memadamkan percikan itu.

Ia memakai nomor satu di punggungnya. Yang pertama menikmati kue pai (pai)? Bukan itu, tapi orang pertama yang harus membayar (pay). Jika terjadi gol itu selalu kesalahan kiper. Jika pun bukan kesalahan kiper, ia sangat mungkin tetap disalahkan.

Tiap kali ada rekannya melakukan pelanggaran, tetap saja dia yang akan dihukum. Rekan-rekannya, yang sebenarnya melakukan pelanggaran, akan meninggalkannya sendiri di depan gawang kosong yang rasanya menjadi lebih besar, dan membiarkannya sendirian menghadapi hukuman itu.

Ketika kesebelasannya mengakhiri suatu petang dengan hasil yang buruk, kiper yang akan membayar tagihannya sendiri, melunasi dosa orang lain di bawah curahan bola yang terbang seperti hujan deras.

Sementara pemain lain bisa meniup bola itu sendiri, guna menebus kesalahan yang mungkin telah ia lakukan dengan melakukan giringan bola yang spektakuler, melalui sepucuk umpan yang berkelas, atau dengan tendangan voli yang begitu presisi. Bukan dia. Sebab dia, hanya dengan melakukan sebuah kesalahan yang sepele, dengan mudah dicap telah merusak permainan dan menghilangkan kemenangan.

Lalu para suporter akan melupakan semua capaian dan kehebatan yang pernah dilakukannya sembari mengutuknya dengan aib yang abadi.  Dan kutukan itu akan selalu menyertai setiap langkahnya menuju hari-hari penghabisan.

Garrincha

Salah satu dari saudaranya membaptis dirinya dengan nama Garrincha: nama yang jelek, seekor burung kecil yang tak berguna.

Ketika ia mulai bermain bola, dokter yang melihat hal itu sampai membuat tanda salib. Mereka memperkirakan bahwa bocah menyedihkan itu, bodoh dan lunglai, yang kelaparan dan mengidap polio, dengan tulang belakang yang melengkung seperti huruf “S” dan kedua kaki yang bengkok ke sisi yang sama, tidak akan pernah mungkin menjadi seorang atlet.

Namun tidak akan pernah ada sayap kanan seperti dirinya. Di Piala Dunia 1958, ia menjadi yang terbaik di posisinya itu dan di Piala Dunia 1962 ia menjadi pemain terbaik dari tim juara. Dan dalam sepanjang karirnya di lapangan, Garrincha lebih dari sekadar itu semua: dalam seluruh sejarah sepakbola, tidak ada yang bisa membuat orang lain bahagia seperti Garrincha.

Ketika ia bermain, lapangan menjadi arena sirkus, dan bola tak ubahnya binatang jinak, dan permainan dengan cepat menjelma menjadi undangan untuk pesta. Seperti anak kecil yang melindungi binatang kesayangan, Garrincha tak akan pernah melepaskan bola dan bersama bola itulah ia memperagakan tipuan-tipuan setan yang akan membuat penonton sekarat karena menahan gelak tawa. Ia akan melompati bola, lalu bola menaiki dirinya dan menghilang, kabur, dan dia akan mengejarnya dan mendapatkannya kembali. Sepanjang proses itu, lawan akan saling bertabrakan satu sama lain, dengan kaki yang pusing seperti sedang mabuk laut, dan akhirnya terjungkal mencium tanah.

Garrincha melakukan kenakalan-kenalakannya di tubir lapangan, di dekat garis tepi, jauh dari pusat permainan: sebab di sanalah, di area pinggiran kota pula, ia lahir, besar dan belajar bermain sepakbola.

Ia bermain untuk klub bernama Botafogo, yang artinya kira-kira “kembang api” dan dialah botafogo yang memantik semangat gila-gilaan para fans dengan segala hal yang berapi-api.

Dialah orang yang akan kabur diam-diam dari kamp pelatihan karena lamat-lamat mendengar bola yang memanggil dari kejauhan memohon-mohon agar sudilah dimainkan, tak ubahnya seorang gadis yang minta dikecup, dengan diiringi alunan musik untuk menari.

Seorang pemenang? Mungkin lebih tepat seorang pecundang yang beruntung. Dan keberuntungan tak pernah tinggal selamanya. Seperti yang dikatakan orang-orang Brazil, jika tai itu ternyata berharga maka tak ada orang miskin yang layak mendapatkannya.

Suporter

Sekali dalam seminggu, suporter akan kabur dari rumahnya dan pergi ke stadion.

Spanduk raksasa yang bergelombang dan udara menjadi bising dengan berbagai suara, petasan, hingga drum dan ribuan pita dan kertas yang melayang seperti gerimis yang jatuh dalam gerak lambat.

Kota pun menghilang, dalam lupa yang menjadi rutin. Yang ada hanyalah kuil bernama stadion. Di tempat suci itu, satu-satunya agama yang tak mengenal ateis(me) itu menempatkan keilahian di lapangan.

Meski mereka bisa menghayati keajaiban di layar TV, mereka lebih suka berziarah ke kuil yang memperlihatkan malaikat-malaikat yang bertarung dengan setan.

Lalu mereka mengibas-ngibaskan syal, menelan ludah, menelan empedunya sendiri, menggigit topi, lalu berbisik khidmat dalam doa dan kutukan, untuk kemudian meledak dalam tepuk tangan, melompat seperti kutu dan memeluk orang tak dikenal yang duduk di sebelahnya, dalam perayaan gila sebuah gol.

Jika orang-orang kafir kian langka, para suporter sangatlah banyak. Bersama ribuan lainnya, mereka berbagi keyakinan bahwa merekalah yang terbaik, bahwa semua wasit itu bangsat dan semua musuh adalah setan-setan yang curang.

Sangat jarang para suporter mengatakan: “Kesebelasan kami main hari ini.” Biasanya mereka berkata: “Kami main hari ini.” Sebab mereka tahu “pemain kedua belas”-lah yang meniupkan angin semangat dan mendorong bola ketika para pemain sendiri sedang tertidur pulas; dan para pemain tahu bahwa bermain tanpa suporter tak ubahnya menari tanpa iringan musik.

Saat pertandingan berakhir, suporter yang belum meninggalkan tribun, merayakan kemenangan sembari berkata: “Betapa hebatnya gol kita tadi”, atau “makan tuh kekalahan dari kami”.

Kadang mereka akan menangisi kekalahan sembari memaki: “Lagi-lagi mereka curang” atau “dasar wasit bajingan!”.

Kemudian matahari pun terbenam. Bayangan jatuh ke dalam stadiun yang telah kosong. Di beberapa undakan tribun, terlihat unggunan api kecil, lalu lampu dan bebunyian perlahan tapi pasti akhirnya menghilang dan semua menjadi dingin. Stadion ditinggalkan dalam kesendirian dan suporter juga kembali ke haribaan kesunyian masing-masing: untuk aku yang sebelumnya sempat menjadi kami.

Suporter berlalu, kerumunan pun mencair, lalu hari Minggu berubah menjadi melankoli yang kesenduannya terasa seperti Rabu Abu seusai karnaval kematian.

Please like & share: